Kamis, 30 April 2020

Dyadic Coping? Apa tuh?

Ada yang pernah mendengar tentang “Dyadic Coping” di sini? Saya jamin 90% dari kalian belum pernah mendengarnya dan bahkan sungguh asing di telinga kalian. Baiklah, mari kita bahas bersama ya?

Dyadic Coping adalah sebuah teori yang diangkat oleh Bodenmann pada 1995 dengan dasar transactional stress theory dari Lazarus dan Folkman pada 1984 yang lebih mendekatkan pada penderita kanker. Lha, dari penderita kanker kok bisa merambah ke stress sih?

Dilansir dari Tirto.id, Bodenmann (1997, 2005) melihat dan mengembangkan dyadic coping ini menjadi suatu model yang sistemik dan erat kaitannya dengan proses, yang dinamakan Systemic-Transactional Model. Model ini melihat bagaimana menghadapi stress yang dialami bersama dan bagaimana pasangan mengatasi masalah, baik secara individual maupun kolektif sebagai satu unit. Dari sini sudah semakin jelas?

Jadi seperti yang kita ketahui, orang yang terkena kanker memiliki kencenderungan stress lebih tinggi dibanding penderita penyakit yang lain seperti sakit kepala, linu, maupun panu, heuheu~. Seperti yang disampaikan Endro Priherdityo oleh CNN Indonesia bahwa sebuah hasil penelitian menunjukkan orang yang mengalami depresi atau kecemasan lebih mungkin berisiko lebih tinggi alami sejumlah jenis kanker. Maka dari itu antara stress dan kanker berkaitan erat dalam segi emosional jiwa seseorang.

Catatan medis yang dilansir dari AFP lebih dari 160 ribu orang dewasa di Inggris dan Wales, orang yang mengalami stess lebih mungkin menyerah akan penyakit kanker, terutama usus, prostat, dan pancreas. Angka yang cukup signifikan, bukan? Namun, para peneliti sangat berhati-hati dalam menarik kesimpulan bahwa meski terbukti secara statistik namun belum tentu menunjukkan sebab-akibat antara kondisi psikologis dan kanker.

Eh kok jadi banyak bahas kanker ya, hehe. Lanjut ke dyadic coping ya. Jadi inti dari dyadic coping kata pak Bodenmann (1995, 2005) itu upaya yang digunakan oleh salah satu atau kedua pasangan untuk mengatasi situasi stress, dimana upaya tersebut merupakan pola interaksional yang terdiri dari ketegangan di antara kedua pasangan. Kamu kalo punya pasangan yang sukanya beranteeeem mulu dan susah untuk berdamai, berarti tingkat dyadic coping nya masih rendah ya, hehe. Karena berantem berasal dari sebuah permasalahan dan itu salah satu perkara yang dapat menjadikan kita stress.

Eitsss, tapi jangan salah. ‘Pasangan’ di sini bukan berarti pacar atau suami saja yaaa. Pasangan di sini dapat berarti teman atau sahabat juga. Salah seorang teman saya bernama Hanum, mahasiswi semester 4 Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya saat ini sedang meneliti mengenai dyadic coping dengan teman atau sahabat. Pengambilan data melalui google form yang sasarannya adalah mahasiswa ini dilakukan demi tugas kuliah alat ukur psikologi. Beberapa pertanyaan yang diajukan adalah nama, usia, dan gender (laki-laki/perempuan).

Selain itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan yaitu ‘Saya memberi tahu pasangan saya tentang tekanan saya’, ‘Pasangan saya sangat empati kepada saya’,’Saya menunjukkan pengertian kepada pasangan saya’,’Kami mencoba mengatasi masalah bersama’,’Pasangan saya menunjukkan perilaku jika dia memiliki masalah’,’Saya mengajak pasangan saya untuk makan, minum, atau mendengarkan musik bersama’,’Pasangan saya memberi dukungan kepada saya’,’Saya membantu mencarikan solusi dengan cara berbeda’,’Saya malas membantu pasangan saya menghadapi masalah’,’Pasangan saya mendengarkan masalah yang saya hadapi’,’Pasangan saya memberi motivasi kepada saya’,’Saya tidak menganggap serius stress pasangan saya’,’Ketika saya sibuk, pasangan saya membantu saya menyelesaikannya’,’Kami saling menyayangi untuk mengatasi masalah’, dan ‘Saya menyalahkan pasangan saya karena tidak cukup baik mengatasi stress’.

Pada kuisioner tersebut responden diminta untuk memilih antara SS (sangat setuju), S (setuju), TS (tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju). Dari kuisioner ini saya jadi menyadari bahwa betapa pentingnya sebuah dukungan pada sesame pasangan untuk menghilangkan stress maupun menyelesaikan sebuah masalah. Juga sebagai tolak ukur seberapa peduli pasangan saya terhadap saya maupun sebaliknya.

Kita memang selalu membutuhkan orang lain dalam menghadapi maupun menyelesaikan setiap permasalahan yang hadir dalam hidup kita. Upayakan sebaik mungkin solusi dari permasalahan yang dapat kita berikan kepada pasangan kita, dimana upaya tersebut merupakan pola interaksional yang terdiri dari ketegangan di antara kedua pasangan supaya mendapatkan titik temu solusi. Apakah masih mau cuek dengan dyadic coping? Coba pikir ulang deh.




Untuk video penjelasan terkait dyadic coping ini bisa temen-temen lihat di instagram aku @d.hanimmumtaz dan temukan beberapa video menarik lain di sana. Jangan lupa follow juga oke?

----------------------------
Referensi:
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-dyadic-coping/121116
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170127124019-255-189472/orang-depresi-cenderung-lebih-rentan-digerogoti-kanker

2 komentar:

  1. Manusia sebagai makhluk sosial akan slalu membutuhkan orang lain, mulai dari lahir yg membutuhkan bantuan bidan sampai meninggalpun butuh tetangga dalam prosesi merawat jasad serta pemakaman. Terkait dyadic coping truk aja gandengan masa kita enggak. Jadi dalam menjalin sebuah hubungan sangatlah perlu saling mengerti dan keterbukaan dalam komunikasi, yang nantinya akan menghasilkan sebuah kepercayaan dan kenyamanan. Semua itu pastinya membutuhkan komitmen diawal untuk bersama dalam hal apapun dimanapun juga. @imun135 #iA135

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah mantab sekali. Memang betul sekali, dyadic coping sangat diperlukan dalam hidup bersama oranglain sebagai pasangan, karena permasalahan pasti akan selalu muncul, jika pasangan kita tidak memberikan upaya penyelesaiannya, mungkin kita akan terjerumus kedalam lembah stress. Terimakasih atas sharing ilmunya :) Selalu semangat berkaryaa!

      Hapus

Modul Pembelajaran Kelas 3 MI/SD

Hai-hai selamat malam semua.. Kali ini aku bakal share buku modul bahasa Inggris kelas 3 MI/SD Semoga bermanfaat :) Silahkan didownload di l...