Senin, 10 Juli 2017

Lampu Gantung Turun dari Langit

Lampu Gantung Turun dari Langit
Diceritakan ada seorang laki-laki membeli seorang budak (hamba sahaya). Ketika laki-laki itu akan membelinya, budak itu memberikan syarat kepada si pembeli seraya mengatakan: “Wahai majikanku! Aku mengajukan tiga syarat kepadamu:
1) Jangan melarang aku melakukan shalat ketika sudah masuk waktunya;
2) Menyuruhku bekerja hanya di siang hari;
3) Menyiapkan satu rumah untukku dan siapapun tidak boleh memasukinya kecuali aku.”
Majikan itu menjawab: “Tiga persyaratan itu saya terima. Sekarang lihatlah rumah-rumah ini dan pilihlah yang cocok untukmu.”
Kemudian budak itu melihat rumah-rumah tersebut hingga ia menemukan sebuah rumah yang sudah rusak, kemudian ia memilihnya.
“Kenapa engkau memilih rumah yang sudah rusak?” Tanya sang majikan
“Wahai majikanku! Taukah kamu, bahwa rumah yang rusak itu akan menjadi rumah dan taman yang indah dan terpelihara manakala penghuninya selalu bersama dengan Allah,” jawab si budak.
Kemudian budak itu setiap malam bertempat dan bermalam di rumah itu. Pada suatu malam sang majikan mengadakan suatu pesta besar-besaran untuk makan-minum dan hiburan, mengundang teman-teman dan sahabat karibnya. Di pertengahan malam acara usai, dan teman-temannya membubarkan diri ke tempat tinggal masing-masing.
Setelah itu, sang majikan mengelilingi rumah dan melihat-lihat sekelilingnya, tiba-tiba pandangannya mengarah ke tempat tinggal budaknya. Ia terkejut, karena di dalam tempat tinggal budak itu terdapat lampu gantung yang indah dari cahaya yang menggelantung dari langit.
Si budak dilihatnya sedang bersujud dan berdo’a kepada Tuhannya: “Wahai Tuhanku, Engkau telah mewajibkan atas diriku melayani majikanku di siang hari, seandainya tidak ada kewajiban itu, niscaya aku akan sibuk melayani-Mu pada malam dan siang hari. Maka ampunilah aku, wahai Tuhanku.”
Sang majikan tak henti-henti memandangnya hingga terbit fajar. Dilihatnya bahwa lampu gantung itu naik ke atas langit dan atap rumah menjadi rapat kembali seperti semula. Kemudian sang majikan memberitahu istrinya tentang kejadian yang telah dilihatnya tadi malam.
Pada malam berikutnya, sang majikan bersama istrinya melihat tempat tinggal budaknya, keduanya sama-sama melihat lampu gantung turun dari langit, dan budak itu sedang bermunajat dalam sujud sampai terbit fajar.
Pagi harinya, sang majikan dan istrinya memanggil budak itu seraya mengatakan: “Engkau merdeka atas ridla Allah subhanahu wata’ala, sehingga engkau leluasa untuk melayani Tuhanmu yang telah kamu mohon ampunanNya.”
Majikan dan istrinya menceritakan kepada si budak tentang apa yang mereka lihat dari karomah-karomahNya. Setelah si budak mendengarnya, kemudian ia mengangkat  kedua tangannya seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, aku telah memohon kepada-Mu agar Engkau tidak membuka tabir rahasiaku, dan tidak memperlihatkan keadaan diriku. Maka setelah Engkau buka tutup rahasiaku, cabutlah nyawaku untuk bertemu dengan-Mu.”
Kemudian budak itu terjungkal dan meninggalkan dunia selama-lamanya. Mudah mudahan Allah subhanahu wata’ala merahmatinya.

(Ini adalah salah satu keutamaan beribadah di malam hari dan istiqomah melakukan shalat tepat waktunya dalam kondisi apapun)

Sumber: Buku 101 Cerita Penegak Iman Peluhur Budi. KH. Moch. Djamaluddin Ahmad. Pustaka Al-Muhibbin, 2010. ISBN 978-602-97456-4-1

Modul Pembelajaran Kelas 3 MI/SD

Hai-hai selamat malam semua.. Kali ini aku bakal share buku modul bahasa Inggris kelas 3 MI/SD Semoga bermanfaat :) Silahkan didownload di l...